Fiksi #Setajam Mata cangkul#
Sinar matahari begitu teriknya, keringat telah membasahi tubuh aku putuskan untuk rehat sejenak dari kegitan mencangkul dan memakan bekal ransum dari istriku.
Setelah makan kegiatan favorit adalah menghisap rokok yang digulung sendiri dengan taburan kemenyan sembari memandang indahnya sawah ini."Inilah sawahku,hartaku yang ku perjuangkan dari ayahku. tidak ada yang berhak memintanya tidak pula adiku".Batinku
Ketika hendak beranjak dari tempat berteduh ada suara langkah yang sangat cepat di belakangku, belum sempat menoleh seseorang menghantam kepalaku dari belakang dengan benda tajam. Nyeri tiada tara,seketika akupun limbung, cucuran air amis berwarna merah keluar dari batok kepala.
Samar pandangan masih melihat seseorang yang mirip dengan wajahku membawa cangkul, sayup suaranya memaki-maki."Modar kamu kang, rasakan orang rakus, sekarang kamu mati disini, makan ini tanah !".
kemudian pukulan kedua di perut hingga usus terburai, darah keluar dari mulut, hilang nafasku, sakit seperti dibelah tujuh pedang hingga hilang semua rasa kecuali sakit .
Jawa tengah, Banjarnegara, Karangkobar. 14 juli 2015
Sinar matahari begitu teriknya, keringat telah membasahi tubuh aku putuskan untuk rehat sejenak dari kegitan mencangkul dan memakan bekal ransum dari istriku.
Setelah makan kegiatan favorit adalah menghisap rokok yang digulung sendiri dengan taburan kemenyan sembari memandang indahnya sawah ini."Inilah sawahku,hartaku yang ku perjuangkan dari ayahku. tidak ada yang berhak memintanya tidak pula adiku".Batinku
Ketika hendak beranjak dari tempat berteduh ada suara langkah yang sangat cepat di belakangku, belum sempat menoleh seseorang menghantam kepalaku dari belakang dengan benda tajam. Nyeri tiada tara,seketika akupun limbung, cucuran air amis berwarna merah keluar dari batok kepala.
Samar pandangan masih melihat seseorang yang mirip dengan wajahku membawa cangkul, sayup suaranya memaki-maki."Modar kamu kang, rasakan orang rakus, sekarang kamu mati disini, makan ini tanah !".
kemudian pukulan kedua di perut hingga usus terburai, darah keluar dari mulut, hilang nafasku, sakit seperti dibelah tujuh pedang hingga hilang semua rasa kecuali sakit .
Jawa tengah, Banjarnegara, Karangkobar. 14 juli 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar