Kenangan itu mahal
Malam sunyi sebuah rumah berdinding kayu di temaramnya lampu listrik terdengar percakapan dua anak manusia.
"Mak, besok jam delapan pagi undangan sidangnya di Pengadilan Negeri ". Kata perempuan muda kepada ibunya yang renta sambil menambal baju dengan mesin jahit tangan.
"Berangkat saja nduk, tateg jangan ragu-ragu! " Kata ibunya sedikit gemetar sambil mengurut kakinya di bangku panjang nampak lelah dan kuyu.
"Tapi kita akan kalah mak, mas Jono udah sewa pengacara kondang dan punya sertifikat pekarangan rumah ini atas namaya. Sebaiknya kita tinggal saja di rumah mebak Tarty, mbak sudah nawarin kita mak?". Sahut sang anak sambil menarik nafas dan ada bulir bening di matanya.
"Moh aku nduk, Jono masmu yang durhaka itu mesti kudu dilawan. Wong ini rumah peninggalan bapakmu. Mbakyu dan masmu yang gebleg itu lahir besar di sini. Pesen bapakmu juga ini rumah disuruh ngrawat, ya ndak boleh dijual " Sungut ibu dengan suara gemetarnya.
"Mau nglawan pake apa to mak?, nasehat dan ancaman Pakde Guru Juri saja ndak diindahkan, dan uang tebusan lima ratus juta dari mbak Tarty hasil minjam sana-sini bahkan mau jual ginjal segala tidak diterima maunya satu milyar. uang dari mana?" Sahut anakya lagi sembari terisak.
Kemudian sang ibu terdiam menahan gemuruh amarah dan sang anak hanyut dalam isakan tangisnya bersama berlalunya malam.
Karangkobar,Banjarnegara 6 Juni 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar